.

Senin, 05 Desember 2011

PERISTIWA PENTING DALAM SEJARAH PADA BULAN MUHARROM

Muharram – Khalifah Umar Al-Khattab menetapkan penggunaan Tahun Hijrah.
Pada tanggal  10 Muharram – Dinamakan juga hari “Asyura” pada hari itu banyak terjadi peristiwa penting yang mencerminkan kemenangan bagi perjuangan yang gigih dan tabah dalam  menegakkan keadilah dan kebenaran.

Pada 10 Muharram juga terjadi peristiwa::
1. Nabi Adam bertaubat kepada Allah
2. Nabi Idris diangkat oleh Allah ke langit.
3. Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan   selama 6 bulan
4. Nabi Ibrahim diselamatkan Allah dari pembakaran Raja Namrud
5. Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa
6. Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara
7. Penglihatan Nabi Yaakub yang kabur dipulihkkan Allah
8. Nabi Ayub dipulihkan Allah dari penyakit kulit yang dideritanya
9. Nabi Yunus selamat dan keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40    malam
10. Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari tentera Fira'un
11. Kesalahan Nabi Daud diampuni Allah
12. Nabi Sulaiman dikurniakan Allah kerajaan yang besar
13. Hari pertama Allah menciptakan alam
14. Hari Pertama Alllah menurunkan rahmat
15. Hari pertama Allah menurunkan hujan
16. Allah menjadikan ‘Arasy
17. Allah menjadikan Luh Mahfuz

»»  Baca Selengkapnya...

Senin, 28 November 2011

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERKEMAHAN SANTRI


Blora,  Sebanyak  235 santri Putra dan putri Pondok Pesantren kabupaten Blora megikuti kegiatan Perkemahan Santri Mustika yang dilaksanakan  tanggal, 18 s/d 20 November 2011 di bumi Perkemahan Gugus Depan Pondok Pesantren Miftahul Amal Jiworejo Kec. Jiken Kabupaten Blora.
<span class=”fullpost”>
Santoso, selaku bantara yang ditunjuk menggembleng peserta perkemahan mengatakan bahwa kegiatan perkemahan bertujuan untuk membina diri para pramuka untuk menjadi insan yang tangguh dalam menghadapi segala tantangan, hambatan dan rintangan hidup  juga tanggap yang berarti cerdas dalam mensikapi segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya dan cermat dalam mengambil langkah dan tanggon, sehingga ada nilai lebih yang dimiliki pramuka santri dibandingkan dengan siswa lainnya.
Sementara itu K. Drs. Nawawi selaku pengasuh  Pondok Pesantren Miftahul Amal Jiworejo Jiken mengatakan bahwa tantangan pendidikan masa sekarang makin komplek, apalagi mendidik anak pada lembaga pendidikan yang ada di Pondok Pesantren, oleh karena itu dibutuhkan kegiatan yang dapat menyalurkan jiwa dan kreatifitas santri, sehingga anak menjadi siswa yang cerdas, kreatif dan tentu saja berakhlak mulia.
Digalakkannya program pendidikan yang menanamkan karakter bagi anak didik disebabkan adanya indikasi bahwa kenakalan remaja  seperti pergaulan bebas, narkoba, tawuran antar pelajar dan sebagainya semakin mengkhawatirkan, demikian ulasan Fathul Himam, S.Ag. MPd.I selaku Kasi Pekapontren Kan Kemenag Kab. Blora dalam sambutannya mewakili Kan Kemenag. “ Pondok Pesantren merupakan pilar pendidikan di tanah air yang telah menanamkan pendidikan karakter, yakni karakter sebai muslim yang berakhlakul karimah sehingga menjadi Rohmatan Lil ‘Alamiin” tambah Pegawai Kemenag yang sekaligus Anggota Kwarcab Kab. Blora.
Bapak dari dua anak yang  pernah menjadi Bantara di waktu SMA ini juga mengatakan bahwa Pendidikan Pramuka sejak dini mengajarkan  anak untuk jujur, bertanggung jawab dan bekerja sama, jadi kalau semua santri aktif berlatih pramuka, nanti pada saat dewasa dan terjun di masyarakat akan menjadi orang yang berperan penting dalam lingkungannya. (gie)</span>
»»  Baca Selengkapnya...

Minggu, 27 November 2011

Budaya



BISAKAH ANAK BEBASKAN ORANAG TUA DINERAKA.

Setidaknya inilah yang hendak diungkapkan oleh Ki Enthus Susmono dalam dakwahya melalui media wayang. Dalam cerita itu dikisahkan bahwa Prabu Pandu Dewayana melakukan kesalahan ketika hidup di dunia, sebagai balasannya ia dan istrinya dimasukkan di Kawah Candradimuka (Nerakanya jagad Pewayangan).
Bratasena selaku Panengah Pandawa tidak tahan membayangkan siksaan yang dialami kedua orangtuanya tersebut. Maka ia segera cancut taliwanda meninggalkan kasatriyan Jodipati meninggalkan sanak keluarga yang dicintainya, bertapa brata dan madeg jadi Pandita di Sumur Jalatunda dengan julukan Begawan Bima Madendha.
Inilah bentuk keprihatinan seorang anak terhadap derita orangtuanya sehingga ia meninggalkan kenikmatan dunia (uzlah) dan mentasarufkan segala yang ia miliki – tenaga, pikiran harta maupun waktu untuk kepentingan sesama ( amanuu wa ‘amilus shoolihat).
Namun aksi putra kedua Pandu dengan Dewi Kunti ini menimbulkan kegemparan di Suralaya sehingga ia dihukum para Dewa  dengan tuduhan membuat ontran-ontran dan menyaingi kekuasaan para Dewa.
Dengan kekuasaan Yang Maha Kuasa ia tidak merasakan panasnya api Kawah Candradimuka, bahkan ia merasa gembira karena bisa bertemu dengan Pandu ayahnya dan Ibu tirinya Dewi Madrim.
Ternyata dengan dimasukkannya Bratasena ke Kawah Candradimuka telah menimbulkan perlawanan dari pihak-pihak yang tidak menerima karena menganggap Dewa sewenang-wenang menjatuhkan hukuman kepada orang yang tidak bersalah. Demo dan pemberontakan terjadi  di mana-mana, akhirnya para Dewa kewalahan dan akhirnya Bathara Guru mengadakan negosiasi dengan Bima untuk memadamkan pemberontakan. Bratasena setuju dengan syarat Pandu dan istrinya harus dikeluarkan dari Kawah Candradimuka dan dimasukkan ke Swargaloka. Karena tidak ada opsi lain maka Dewa menyetujui dan bebaslah Pandu dan Dewi Madrim dari siksa Neraka.
Walaupun dimodifikasi dengan lakon pewayangan, setidaknya inilah yang hendak disampaikan  para dalang dengan lakon carangan dalam  menerjemahkan ajaran agama kepada masyakat Jawa yang masih berpegang teguh dengan akar budayanya.
Jika telah mati anak Adam maka putuslah segala amal perbuatanya kecuali tiga hal. Shodaqoh jariah, Ilmu yang bermanfaat, dan Anak sholeh yang mendoakan orangtuanya.....(Al Hadits)


»»  Baca Selengkapnya...