.

Senin, 04 Maret 2013

Selayang Pandang Pendidikan Al Qur'an


Pekapontren Blora : Peraturan Pemerintah No. 55 tahun 2007 pasal 24 ayat 2 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan menyatakan bahwa Pendidikan Al-Qur’an terdiri dari Taman Kanak-Kanak AL Qur’an (TKA/TKQ), Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA/TPQ), Ta’limul Qur’an lil Aulad (TQA), dan bentuk lainnya yang sejeis. Perkembangan lembaga pendidikan Al-Qur’an yang begitu pesat menandakan makin meingkatnya kemampuan kesadaran masyarakat. akan pentingnya kemampuan baca tulis Al-Qur’an dan keberadannya di Indonesia.
            Keberdaan pendidikan Al-Qur’an tersebut membawa misi yang sangat mendasar terkait dengan pentingnya memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an sejak usia dini. Kesemarakan ini menemukan momentumnya pada tahun 1990-an setelah ditemukan berbagai metode dan pendekatran dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an. Kini lembaga pendidikan Al-Qur’an berupa TKA/TKQ, TPA/TPQ dan TQA atau sejenisnya telah cukup eksis. Dengan disahkannya PP No. 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, makin memperkokoh keberadaan lembaga pedidikan Al-Qur’an ini, sehingga menuntut penyelenggaraannya lebih professional. Apa perbedaan TKA,TPQ dan TKQ
A. TKA/TKQ

  •  Pengertian : Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKA/TKQ) adalah satuan pendeidikan non formal yang menyelenggarakan Al-Qur’an pada anak usia 4 – 7 tahun. 

    • Batasan Usia TK Al-Qur’an dibagi dalam kelompok dengan sebutan “ LEVEL” 
      • LEVEL A antara usia 4 – 6 tahun 
      • o LEVEL B antara usia 6 – 7 tahun 
    B. TPA / TPQ
    • Pengertian : Taman pendidikan Al-Qur’an (TPA/TPQ) adalah lembaga atau kelompok masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan non-formal jenis keagamaan islam yang bertujuan untuk memberikan pengajaran Al Qur’an, serta memahami dasar-dasar dinul Islam pada anak usia sekolah dasar dan atau madrasah ibtidaiyah (SD/MI). 
    • Batasan Usia Batasan usia anak yang mengikuti pendidikan Al Qur’an pada Taman Pendidikan Al Qur’an adalah anak-anak berusia 7 – 12 tahun 
    C. T Q A. 
    • Pengertian Ta’limul Qur’an Lil Aulad adalah satuan pendidikan non formal yang merupakan lanjutan dari TK/TP Al Qur’an pasca wisuda yang bertujuan mengembangkan bekal bagi santri agar mencintai dan mengamalkan Al Qur’an serta membacanya dengan fasih (tartil dan tilawah), menghafal serta menerjemahkan secara lafdziyah serta menulis dengan baik dan benar, sehingga Al Qur’an menjadi bacaan dan pandangan hidupnya sehari-hari. 
    • Batasan Usia Batasan usia anak yang mengikuti ta’limul Qur’an adalah anak-anak yang berusia 12 – 14 tahun dan atau telah menyelesaikan pendidikan ti TPA/TPQ level C
    »»  Baca Selengkapnya...

    Sabtu, 26 Januari 2013

    Dakwah Di Era Modern

    Pekapontren Blora :
    Dakwah membutuhkan sarana yang memadai supaya materinya bisa tersampaikan secara mudah pada target masyarakat yang menjadi sasaran. Maka disamping adanya penyuluhan yang dilakukan rutin oleh penyuluh Agama Islam baik Lembaga pemasyarakatan, Rumah Sakit maupun kelompok pengajian di masyarakat, saat ini dakwah di Kankemenag Blora juga bisa diakses melalui Radio Online yang bisa dinikmati oleh pendengar pada jam masuk kantor dan wilayah jangkauannya bisa lebih luas lagi. Demikian disampaikan oleh Plt Kasi Penamas Kankemenag Blora, Fathul Himam, S.Ag, M.PdI.
    Selain pengajian rutin yang sudah melibatkan baik kankemenag, Kasi dan Gara, PPAI maupun penyuluh yang digelar setiap senin sekali, maka menurutnya wilayah jangkuan juga bisa diperluas lagi melalui radio yang bisa diakses langsung oleh masyarakat.
    Selain sebagai media dakwah yang rutin disampaikan oleh penyuluh, Kasi maupun karyawan kankemenag maka Radio Online ini diharapkan bisa menjadi media penyampaian informasi seputar Kankemenag maupun hiburan dan seni yang mampu dinikmati oleh masyarakat sekitar serta program program pelayanan keagamaan baik pondok pesantren, madrasah dan lainnya.Narasumber pun hanya melalui laptop bisa menyampaikan informasi langsung kepada masyarakat luas.
    “Radio online ini sebagai sarana peningkatan informasi pada masyarakat selain sebagai media dakwah”ungkap Fathul Himam Serius. (ima)
    »»  Baca Selengkapnya...

    Kamis, 24 Januari 2013

    Tahapan Mendidik Anak Sholeh

    Pekapontren Blora : Orang tua, terutama ibu, memiliki peranan terbesar dalam pendidikan anak-anaknya. Akan tetapi seringkali mereka tidak mengetahui dari mana mereka harus mulai menanamkan akidah Islam pada buah hatinya, bagaimana mengajarkannya dan bagaimana menancapkannya pada hati mereka.


                Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah teladan terbaik bagi kita dalam segala hal, termasuk dalam pergaulan beliau dengan anak-anak. Dalam masalah ini, kita bisa memetik lima pokok dalam pendidikan beliau terhadap akidah anak-anak:

           1. Membiasakan anak mengucapkan dan mendengarkan kalimat tauhid dan memahamkan maknanya jika ia telah besar.

    Wajib atas orang tua untuk menumbuhkan tauhid terhadap Allah pada anak-anaknya sedari dini. Oleh karena itu, ajarkan dan pahamkan anak bahwa Rabb mereka adalah Allah ‘Azza Wajalla Dialah yang menciptakan, yang memberi rejeki, yang menghidupkan dan makna-makna rububiyyah Allah lainnya. Setelah mengenal keagungan Allah dalam rububiyah-Nya, iringilah dengan mengajarkan bahwa Allah-lah yang berhak untuk disembah, diibadahi, disyukuri, diharapkan dan hanya kepada-Nya pula ditujukan segala jenis ibadah. Tak kalah pentingnya memperingatkan mereka dari syirik dan menjelaskan bahayanya pada mereka.

            2. Menanamkan Kecintaan anak terhadap Allah

    Dalamnya kecintaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan tertanamnya keimanan terhadap takdir-Nya membawa seorang anak untuk bisa menghadapi hidupnya dengan optimis dan tawakkal. Benih cinta kepada Allah yang tertanam akan menumbuhkan keberanian, karena dia akan menyadari bahwa tidak ada yang pantas ditakuti kecuali kemurkaan-Nya.

    Gambaran keberanian yang menakjubkan ini terlukis pada diri seorang anak kecil, hasil didikan generasi mulia, Abdullah bin Az-Zubair. Suatu saat Abdullah dan anak-anak sebayanya berkumpul dan bermain-main di suatu jalan. Ketika melihat Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhum lewat di jalan tersebut, semua anak berlarian kecuali Abdullah bin Az-Zubair. Menyaksikan peristiwa itu, Umar merasa takjub sehingga bertanya kepada anak kecil itu, apa sebabnya ia tidak lari seperti anak-anak lainnya. Abdullah kecil pun menjawab, "Aku tidak bersalah sehingga aku harus lari, dan aku tidak takut pada Anda, sehingga aku harus meluaskan jalan bagi Anda."

    Inilah sosok mungil Abdullah bin Az-Zubair, tidak ada yang ditakutkannya kecuali kemurkaan Rabbnya karena melanggar larangan atau meninggalkan perintah-Nya.

            3. Menanamkan kecintaan anak pada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam

    Dalam riwayat Bukhari dari Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhum bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

    لاَ يُؤْمِنُ أَحَدَكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

    "Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dia cintai daripada ayahnya, anaknya dan seluruh manusia." (HR. Bukhari).

    Betapa pentingnya kecintaan terhadap Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sampai-sampai tidak akan sempurna iman seseorang tanpanya.

    Membacakan sirah (sejarah) Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan mengenalkan mereka akan sifat-sifat beliau yang mulia merupakan upaya terbaik untuk menumbuhkan kecintaan mereka pada beliau.

           4. Mengajarkan pada anak Al Qur'an Al Karim

    Sepantasnya bagi orang tua untuk memulai pelajaran bagi putra-putrinya dengan Al Qur'an sejak dini. Yang demikian itu untuk menanamkan pada mereka bahwa Allah adalah Rabb mereka dan Al Qur'an adalah firman-Nya. Menancapkan ruh Al Qur'an pada hati-hati mereka dan cahaya Al Qur'an pada pikiran-pikiran mereka, sehingga mereka tumbuh di atas kecintaan kepada Al Qur'an. Hati mereka menjadi terikat padanya sehingga mereka siap untuk mengikuti perintahnya dan berhenti dari larangan-larangan yang ada padanya, berakhlak dengan akhlak Al Qur'an dan berjalan di atas manhajnya.

    Imam As-Suyuthi mengatakan bahwa mengajarkan Al Qur'an pada anak merupakan salah satu pokok Islam agar mereka tumbuh di atas fitrahnya, dan cahaya hikmah itu lebih dahulu menancap di hati mereka sebelum menetapnya hawa nafsu, kotoran-kotoran maksiat dan kesesatan.

    Para salafus shaleh biasa mengajari anak-anak mereka Al Qur'an sebelum mencapai usia 3 tahun, sehingga kita akan dapati pada usia yang masih belia, mereka telah menghapal Al Qur'an. Sebut saja Imam Syafi'i, beliau telah hapal Al Qur'an pada usia 10 tahun, demikian pula Imam Nawawi rahimahumallah.

           5. Mendidik anak untuk. berakhlak yang baik

    Islam sebagai agama yang sempurna dan relevan di setiap tempat dan zaman sangat menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak manusia. Sebagaimana sabdanya,

    إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

    "Aku diutus oleh Allah tidak lain untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh" (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani).

    Akhlak merupakan tolok ukur iman seseorang. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

    أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا


    "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling sempurna akhlaknya." (HR. Ahmad dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani).

    Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah ditanya tentang penyebab yang paling banyak orang masuk surga. Beliau menjawab,

    تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

    "Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik." (HR. Tirmidzi dan Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani).

    مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ

    "Tidak ada sesuatu yang paling berat dalam timbangan melebihi akhlak yang baik." (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

    Hadits-hadits di atas menunjukkan betapa akhlak yang baik memiliki keutamaan dan ketinggian derajat. Sudah sepantasnya apabila kita berusaha untuk memilikinya. Tetapi perlu diingat bahwa ukuran baik buruknya akhlak seseorang tidaklah didasari oleh selera individu masing-masing, atau menurut adat istiadat yang berlaku di masyarakat. Semuanya harus berpedoman menurut norma Islam.

            6. Memilih sekolah / lembaga pendi-dikan yang baik bagi anak

    Adanya generasi yang buruk, bukan karena kesalahan mereka semata, namun ada faktor lain yang turut menentukan hal tersebut.

    Selain keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak-anak, pendidikan formal pun memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian seorang anak. Akan tetapi, pendidikan formal saat ini, pada umumnya tidak mampu mendidik anak didiknya dengan baik. Contoh, sekolah/lembaga pendidikan hanya sekadar mentransfer ilmu, sedangkan pembinaan kerpribadian jarang dilakukan. Belum lagi kurikulum yang diterapkan sebagian besar adalah ilmu umum, sedangkan ilmu agama sangat sedikit sekali, menyebabkan anak didik berperilaku kurang baik.
    »»  Baca Selengkapnya...