.

Sabtu, 26 Januari 2013

Dakwah Di Era Modern

Pekapontren Blora :
Dakwah membutuhkan sarana yang memadai supaya materinya bisa tersampaikan secara mudah pada target masyarakat yang menjadi sasaran. Maka disamping adanya penyuluhan yang dilakukan rutin oleh penyuluh Agama Islam baik Lembaga pemasyarakatan, Rumah Sakit maupun kelompok pengajian di masyarakat, saat ini dakwah di Kankemenag Blora juga bisa diakses melalui Radio Online yang bisa dinikmati oleh pendengar pada jam masuk kantor dan wilayah jangkauannya bisa lebih luas lagi. Demikian disampaikan oleh Plt Kasi Penamas Kankemenag Blora, Fathul Himam, S.Ag, M.PdI.
Selain pengajian rutin yang sudah melibatkan baik kankemenag, Kasi dan Gara, PPAI maupun penyuluh yang digelar setiap senin sekali, maka menurutnya wilayah jangkuan juga bisa diperluas lagi melalui radio yang bisa diakses langsung oleh masyarakat.
Selain sebagai media dakwah yang rutin disampaikan oleh penyuluh, Kasi maupun karyawan kankemenag maka Radio Online ini diharapkan bisa menjadi media penyampaian informasi seputar Kankemenag maupun hiburan dan seni yang mampu dinikmati oleh masyarakat sekitar serta program program pelayanan keagamaan baik pondok pesantren, madrasah dan lainnya.Narasumber pun hanya melalui laptop bisa menyampaikan informasi langsung kepada masyarakat luas.
“Radio online ini sebagai sarana peningkatan informasi pada masyarakat selain sebagai media dakwah”ungkap Fathul Himam Serius. (ima)
»»  Baca Selengkapnya...

Kamis, 24 Januari 2013

Tahapan Mendidik Anak Sholeh

Pekapontren Blora : Orang tua, terutama ibu, memiliki peranan terbesar dalam pendidikan anak-anaknya. Akan tetapi seringkali mereka tidak mengetahui dari mana mereka harus mulai menanamkan akidah Islam pada buah hatinya, bagaimana mengajarkannya dan bagaimana menancapkannya pada hati mereka.


            Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah teladan terbaik bagi kita dalam segala hal, termasuk dalam pergaulan beliau dengan anak-anak. Dalam masalah ini, kita bisa memetik lima pokok dalam pendidikan beliau terhadap akidah anak-anak:

       1. Membiasakan anak mengucapkan dan mendengarkan kalimat tauhid dan memahamkan maknanya jika ia telah besar.

Wajib atas orang tua untuk menumbuhkan tauhid terhadap Allah pada anak-anaknya sedari dini. Oleh karena itu, ajarkan dan pahamkan anak bahwa Rabb mereka adalah Allah ‘Azza Wajalla Dialah yang menciptakan, yang memberi rejeki, yang menghidupkan dan makna-makna rububiyyah Allah lainnya. Setelah mengenal keagungan Allah dalam rububiyah-Nya, iringilah dengan mengajarkan bahwa Allah-lah yang berhak untuk disembah, diibadahi, disyukuri, diharapkan dan hanya kepada-Nya pula ditujukan segala jenis ibadah. Tak kalah pentingnya memperingatkan mereka dari syirik dan menjelaskan bahayanya pada mereka.

        2. Menanamkan Kecintaan anak terhadap Allah

Dalamnya kecintaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan tertanamnya keimanan terhadap takdir-Nya membawa seorang anak untuk bisa menghadapi hidupnya dengan optimis dan tawakkal. Benih cinta kepada Allah yang tertanam akan menumbuhkan keberanian, karena dia akan menyadari bahwa tidak ada yang pantas ditakuti kecuali kemurkaan-Nya.

Gambaran keberanian yang menakjubkan ini terlukis pada diri seorang anak kecil, hasil didikan generasi mulia, Abdullah bin Az-Zubair. Suatu saat Abdullah dan anak-anak sebayanya berkumpul dan bermain-main di suatu jalan. Ketika melihat Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhum lewat di jalan tersebut, semua anak berlarian kecuali Abdullah bin Az-Zubair. Menyaksikan peristiwa itu, Umar merasa takjub sehingga bertanya kepada anak kecil itu, apa sebabnya ia tidak lari seperti anak-anak lainnya. Abdullah kecil pun menjawab, "Aku tidak bersalah sehingga aku harus lari, dan aku tidak takut pada Anda, sehingga aku harus meluaskan jalan bagi Anda."

Inilah sosok mungil Abdullah bin Az-Zubair, tidak ada yang ditakutkannya kecuali kemurkaan Rabbnya karena melanggar larangan atau meninggalkan perintah-Nya.

        3. Menanamkan kecintaan anak pada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam

Dalam riwayat Bukhari dari Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhum bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدَكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

"Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dia cintai daripada ayahnya, anaknya dan seluruh manusia." (HR. Bukhari).

Betapa pentingnya kecintaan terhadap Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sampai-sampai tidak akan sempurna iman seseorang tanpanya.

Membacakan sirah (sejarah) Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan mengenalkan mereka akan sifat-sifat beliau yang mulia merupakan upaya terbaik untuk menumbuhkan kecintaan mereka pada beliau.

       4. Mengajarkan pada anak Al Qur'an Al Karim

Sepantasnya bagi orang tua untuk memulai pelajaran bagi putra-putrinya dengan Al Qur'an sejak dini. Yang demikian itu untuk menanamkan pada mereka bahwa Allah adalah Rabb mereka dan Al Qur'an adalah firman-Nya. Menancapkan ruh Al Qur'an pada hati-hati mereka dan cahaya Al Qur'an pada pikiran-pikiran mereka, sehingga mereka tumbuh di atas kecintaan kepada Al Qur'an. Hati mereka menjadi terikat padanya sehingga mereka siap untuk mengikuti perintahnya dan berhenti dari larangan-larangan yang ada padanya, berakhlak dengan akhlak Al Qur'an dan berjalan di atas manhajnya.

Imam As-Suyuthi mengatakan bahwa mengajarkan Al Qur'an pada anak merupakan salah satu pokok Islam agar mereka tumbuh di atas fitrahnya, dan cahaya hikmah itu lebih dahulu menancap di hati mereka sebelum menetapnya hawa nafsu, kotoran-kotoran maksiat dan kesesatan.

Para salafus shaleh biasa mengajari anak-anak mereka Al Qur'an sebelum mencapai usia 3 tahun, sehingga kita akan dapati pada usia yang masih belia, mereka telah menghapal Al Qur'an. Sebut saja Imam Syafi'i, beliau telah hapal Al Qur'an pada usia 10 tahun, demikian pula Imam Nawawi rahimahumallah.

       5. Mendidik anak untuk. berakhlak yang baik

Islam sebagai agama yang sempurna dan relevan di setiap tempat dan zaman sangat menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak manusia. Sebagaimana sabdanya,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

"Aku diutus oleh Allah tidak lain untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh" (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani).

Akhlak merupakan tolok ukur iman seseorang. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا


"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling sempurna akhlaknya." (HR. Ahmad dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani).

Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah ditanya tentang penyebab yang paling banyak orang masuk surga. Beliau menjawab,

تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

"Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik." (HR. Tirmidzi dan Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani).

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ

"Tidak ada sesuatu yang paling berat dalam timbangan melebihi akhlak yang baik." (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Hadits-hadits di atas menunjukkan betapa akhlak yang baik memiliki keutamaan dan ketinggian derajat. Sudah sepantasnya apabila kita berusaha untuk memilikinya. Tetapi perlu diingat bahwa ukuran baik buruknya akhlak seseorang tidaklah didasari oleh selera individu masing-masing, atau menurut adat istiadat yang berlaku di masyarakat. Semuanya harus berpedoman menurut norma Islam.

        6. Memilih sekolah / lembaga pendi-dikan yang baik bagi anak

Adanya generasi yang buruk, bukan karena kesalahan mereka semata, namun ada faktor lain yang turut menentukan hal tersebut.

Selain keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak-anak, pendidikan formal pun memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian seorang anak. Akan tetapi, pendidikan formal saat ini, pada umumnya tidak mampu mendidik anak didiknya dengan baik. Contoh, sekolah/lembaga pendidikan hanya sekadar mentransfer ilmu, sedangkan pembinaan kerpribadian jarang dilakukan. Belum lagi kurikulum yang diterapkan sebagian besar adalah ilmu umum, sedangkan ilmu agama sangat sedikit sekali, menyebabkan anak didik berperilaku kurang baik.
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 15 Agustus 2012

Urgensi Idul Fitri

IDUL FITRI HARI KEMENANGAN

Mengapa Idul Fitri disebut-sebut sebagai ‘Hari Kemenangan’ ? Jawaban atas pertanyaan ini bias ditelusuri melalui 2 (dua) pengertian berikut ini :
Pertama, dari kata idul fithri itu sendiri yang berarti kembali ke fitrah, yakni ‘asal kejadian’, atau ‘kesucian’, atau ‘agama yang benar’. Maka setiap orang yang merayakan idul fitri dianggap sebagai cara seseorang untuk kembali kepada ajaran yang benar, sehingga dia bisa memperoleh kemenangan.
Kedua, dari kata ‘minal ‘aidin wal faizin’ yang berarti ‘semoga kita termasuk orang-orang yang kembali memperoleh kemenangan’ . Karena menurut para ahli, kata al-faizin diambil dari kata fawz, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an, yang berarti ‘keburuntungan’ atau ‘kemenangan’.
Menurut Quraish Shihab, bila kata fawz dirujukkan kepada Al-Qur’an, ditemukan bahwa hampir seluruh kata itu kecuali Al-Qur’an surat An-Nisa : 73 mengandung makna ‘pengampunan dan keridhaan Allah serta kebahagiaan surgawi’. Kalau begitu, maka bisa dipahami bahwa kata ‘minal ‘aidin wal faizin’ sesungguhnya bermakna do’a, yakni ‘semoga kita termasuk orang-orang yang memperoleh ampunan dan ridha Allah SWT sehingga kita bisa mendapatkan kenikmatan surga-Nya’.
Makna lain dari kata idul fitri sebagai hari kemenangan adalah karena pada hari itu seluruh kaum muslimin dan muslimat baru saja menuntaskan kewajiban agamanya yang paling berat yaitu menahan hawa nafsu melalui ibadah Ramadhan. Karena itu, barangsiapa mampu menuntaskan ibadah Ramadhan itu selama sebulan penuh, tentu dia akhirnya keluar sebagai pemenang dalam ujian kesabarannya itu. Bukankah di bulan puasa segenap umat Islam diuji kesabarannya dalam menahan diri dari godaan hawa nafsu, baik nafsu syahwat maupun nafsu makan dan minum di siang hari ? Itulah sebabnya, usai kita melakukan ibadah puasa, lalu diakhiri dengan perayaan idul fitri, adalah tidak lain dari upaya merayakan kemenangan jiwa kita sendiri.
Cobalah rasakan pada saat bulan puasa tetapi kita tidak berpuasa, lantas tibalah saatnya hari Raya Idul Fitri, apa kira-kira yang harus kita sambut ? Tidak ada. Sebab, orang yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan, maka pada saat tiba idul fitri, dia akan menyambut hari kemenangan itu dengan sikap dingin, hambar, hampa, seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara orang yang berpuasa, apalagi sampai sebulan penuh, pasti merayakannya dengan penuh kenikmatan. Inilah kemudian bisa dipahami bahwa mengapa Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa orang yang merayakan idul fitri itu seolah dia memperoleh ampunan dan ridha Allah sehingga dia bisa mendapatkan kenikmatan surgawi.
                Menurut saya, kenikmatan surgawi tidaklah semata-mata dalam pengertian material, yaitu surga yang dijanjikan oleh Allah di yaumil akhir nanti, tetapi juga bermakna spiritual, yaitu berupa konsep tentang kebahagiaan dan kenikmatan hidup yang diperoleh manusia setelah dia mampu menuntaskan suatu pekerjaan berat yang dibebankan kepadanya. Dan kenikmatan spiritual itu bisa diperolehnya di dunia. Bukankah kenikmatan hidup itu terasa kian besar manakala kita mampu keluar dari kesulitan hidup dengan selamat ?
Seolah-olah kita dihadapkan pada sebuah kesulitan besar laksana keluar dari lubang jarum kemudian masuk ke lapangan terbuka, sehingga kita bisa menikmati udara segar dan hawa sejuk. Tiada lagi kepengapan dan kepenatan yang mengepung jiwa kita.
Sesungguhnya metafora ‘lapangan terbuka’ akan mampu memberikan kepada kita kenikmatan hidup yang membahagiakan. Itulah yang disebut-sebut sebagai kemampuan manusia untuk memperoleh kemenangan sejati dalam ber’idul fitri. Seolah di Hari Fitri semua persoalan yang mengganjal kehidupan, terselesaikan. Apakah kamu tidak ingin Alah memaafkan kamu ? Allah adalah Maha Pemaaf lagi Maha Penyayang (Al-Qur’an, An-Nur : 22). Mudah-mudahan di Hari Raya Idul Fitri ini, kita pun kembali termasuk orang-orang yang kembali memperoleh keridhaan Allah dan menikmati keindahan surga-Nya, sebagai bukti bahwa kita ‘menang’ dalam mengatasi segala ujian-Nya. Wallahua’lam.
Inilah hakikat Idul Fitri yang mengisyaratkan adanya upaya manusia untuk kembali kepangkuan Tuhannya, atau kembali ke asal usul yang menciptakan manusia, yaitu Allah SWT itu sendiri. Kembali ke Tuhan dalam keadaan putih bersih setelah melakukan taubatan nashuha.
Gerak upaya kembali ke asal adalah sebuah jargon yang mengindikasikan adanya ikhtiar sadar manusia untuk melakukan penyegaran moral tatkala manusia hendak melakukan transformasi social kehidupannya. Karena, setiap gerak ke depan ia selalu membutuhkan langkah kembali ke belakang, agar gerak ke depan bias memiliki daya jangkau yang lebih jauh dan panjang. Tanpa gerak kembali ke belakang besar kemungkinan lompatan ke depan tidak memiliki daya tumpu yang kuat, sehingga jangkauan yang tercapaikan pun akan sangat dekat dan pendek.
Ilustrasi ini menggambarkan, bahwa setiap gerak maju betapapun hebatnya selalu membutuhkan langkah mundur sebagai proses persiapan, ancang-ancang , bahkan penyegaran, agar dia dapat lebih leluasa menata kembali arus nafas sehingga mampu melesat ke depan secara lebih ringan.
‘Idul Fitri pun memiliki makna yang sama, yaitu sebagai langkah mundur untuk proses persiapan dalam menghadapi tantangan hidup yang mungkin jauh lebih hebat dan berat di masa-masa yang akan datang. Namun jauh lebih penting lagi adalah gerakan memacu meningkatkan moral sosial kita yang suci, murni, dan sejati itu, baik di mata manusia maupun di mata Allah SWT. Wassalam.
Dikutip dari buku : “Noktah Pengharapan Manusia” .
»»  Baca Selengkapnya...